Showing posts with label Merdeka Belajar. Show all posts
Showing posts with label Merdeka Belajar. Show all posts

Tuesday, 5 March 2024

Merdeka Belajar, SMAN 1 Simpang Rimba Lakukan Pembelajaran Inovatif Bahaya Asap Rokok Bagi Kesehatan Paru-paru


Kabar Ngetren/Bangka Selatan - Para peserta didik kelas XI 1 SMA Negeri 1 Simpang Rimba, yang terletak di Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sekali lagi memukau dunia pendidikan melalui praktikum yang bertajuk Bahaya Asap Rokok bagi Kesehatan Paru-paru, pada hari Senin, 4/3.

Kegiatan ini berlangsung di laboratorium Biologi SMA Negeri 1 Simpang Rimba yang dilengkapi dengan fasilitas yang memadai untuk menunjang pembelajaran. Guru Biologi, Robi Pibra, S.Pd, memberikan pengalaman langsung kepada siswa dengan melaksanakan praktikum setelah mereka dibekali dengan teori. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membuktikan bahaya asap rokok bagi kesehatan paru-paru manusia.

Praktikum berlangsung selama kurang lebih 3 jam pelajaran dan dibimbing langsung oleh guru mata pelajaran biologi, Robi Pibra S.Pd. Sebelum memulai praktikum, peserta didik diberikan penjelasan mengenai tujuan praktikum, bahan dan alat yang digunakan, serta cara kerja yang baik untuk memperoleh hasil yang akurat.


Menurut Robi Pibra S.Pd, tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan edukasi kepada peserta didik tentang pentingnya menjaga kesehatan paru-paru dengan tidak merokok dan menghindari asap rokok. Beliau juga mengajak siswa untuk menyampaikan pengetahuan ini kepada keluarga mereka.

Salah satu siswa yang mengikuti praktikum menekankan pentingnya untuk tidak merokok demi menjaga kesehatan diri dan keluarga terdekat. Ia juga menyoroti bahaya perokok pasif yang sering kali terabaikan.

Praktikum hari ini berjalan lancar sesuai dengan petunjuk kerja yang telah diberikan oleh guru mata pelajaran biologi. Hal ini terlihat dari ekspresi senang dan bahagia para peserta didik. Putri Simba. 

Saturday, 3 February 2024

Merdeka Belajar: Menjaga Keberlanjutan Transformasi Pendidikan Indonesia


Jakarta - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan nasional melalui langkah transformasi pendidikan yang komprehensif. 

Dengan fokus pada inovasi kurikulum, pemberdayaan guru, dan penerapan teknologi di kelas, Kemendikbudristek berupaya memastikan setiap anak memiliki akses ke pendidikan berkualitas, guna menciptakan lompatan besar dalam pendidikan Indonesia.

Merdeka Belajar, sebagai paradigma pembelajaran yang berorientasi pada murid, menjadi sebuah cara yang tepat dalam melihat esensi transformasi pendidikan. 

Melalui program ini, sekolah dan guru dapat benar-benar fokus menjalankan tugasnya, yaitu mendorong pembelajaran di kelas sesuai tingkat kompetensi siswa.

“Setelah merasakan hasil dari pembelajaran yang berpusat pada siswa, menurut saya orang-orang akan berusaha keras untuk mempertahankannya,” demikian disampaikan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, dalam webinar Silaturahmi Merdeka Belajar (SMB) bertajuk “Hasil PISA dan Transformasi Pendidikan di Indonesia” yang disiarkan melalui kanal Youtube KEMENDIKBUD RI, pada Kamis, (1/2).

Oleh karena itu, menjaga transformasi pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik, tentu menjadi prioritas bagi semua pihak. 

Lebih lanjut Mendikbudristek menjelaskan tiga faktor utama yang berdampak pada keberlanjutan Merdeka Belajar di masa mendatang.

Pertama, keberadaan ratusan ribu Guru Penggerak yang menjadi agen perubahan membawa  paradigma baru di dunia pendidikan dan ikut membawa pengaruh positif bagi guru-guru lainnya. 

Kedua, sebanyak 80 persen sekolah di Indonesia secara sukarela telah mulai mempelajari tentang prinsip, ide, dan mengimplementasikan bagian-bagian dari Kurikulum Merdeka.

Terakhir, revolusi digital melalui platform-platform pendukung pembelajaran yang telah diluncurkan oleh Kemendikbudristek. Ia juga menekankan untuk tidak memandang gerakan ini sebagai kebijakan pemerintah yang bersifat top-down, melainkan fokus pada gerakan akar rumput.

“Di negara berkembang seperti Indonesia, sistem pendidikan harus selalu memprioritaskan para murid yang tertinggal. Diperlukan mandat yang jelas tentang kebijakan pemerintah agar benar-benar memprioritaskan kurikulum serta pengajaran dengan berfokus pada mereka yang berpotensi tertinggal,” kata Mendikbudristek.

Bukti konkret transformasi pendidikan nasional, salah satunya terlihat dalam penanganan pandemi Covid-19 lalu. Pandemi Covid-19 telah memaksa sektor pendidikan bertransformasi secara cepat. 

Berdasarkan hasil Programme for International Student Assesment (PISA) 2022, dampak pandemi Covid-19 terhadap penutupan sekolah membuat banyak siswa di berbagai negara mengalami kemunduran belajar (learning loss).

Hal tersebut berdampak pada menurunnya rata-rata skor literasi membaca, literasi matematika, dan literasi sains internasional. 

Kendati demikian, Indonesia berhasil mempertahankan skornya di tingkat rata-rata atau bahkan lebih baik dari rata-rata internasional.

Kemendikbudristek juga mengeluarkan sejumlah terobosan agar pembelajaran dapat tetap terlaksana dan menghindari terjadinya zero learning, di antaranya pembagian kuota internet kepada murid dan guru, diluncurkannya platform untuk saling berbagi praktik baik bagi para guru, pengadaan konten pembelajaran melalui saluran televisi, dan memberikan fleksibilitas ke sekolah dalam memanfaatkan dana BOS.

“Menurut saya, yang paling berdampak adalah keputusan kami untuk menawarkan kepada semua sekolah agar melakukan kurikulum versi yang disederhanakan. Kini dapat dilihat bahwa sekolah yang menerapkan kurikulum yang disederhanakan atau kurikulum darurat, mengalami kemunduran belajar lebih sedikit,” jelas Mendikbudristek.

Sementara itu, Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Anindito Aditomo, menyoroti keterkaitan antara hasil PISA dan Asesmen Nasional yang diterapkan di Indonesia. 

“Asesmen Nasional merupakan penilaian komprehensif tingkat sekolah yang dapat melengkapi hasil PISA. Ketika PISA memberi kita sebuah gambaran level nasional, Asesmen Nasional menunjukkan yang lebih spesifik dari hampir setiap sekolah di Indonesia,” ujar Anindito dalam webinar yang sama.

Selain mengukur hasil pembelajaran siswa dalam hal literasi membaca, numerasi, dan pemikiran kritis, Asesmen Nasional juga menilai berbagai aspek sekolah seperti iklim sekolah dan berbagai faktor risiko (seperti perundungan, intoleransi, kekerasan di sekolah), serta kualitas pengajaran.

“Yang paling penting adalah kami memberikan hasil-hasil itu kembali ke sekolah dan pemerintah daerah. Kami menggunakan data sebagai umpan balik formatif untuk perencanaan tahunan. Hal tersebut kemudian bermuara pada perbaikan terus-menerus terhadap pengajaran dan pembelajaran,” ujar Anindito.

Director for the Directorate of Education and Skills Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), Andreas Schleicher, mengapresiasi langkah-langkah inovatif yang diambil oleh Indonesia dalam transformasi pendidikan, khususnya dalam penerapan Merdeka Belajar. 

"Indonesia memperkenalkan semuanya secara bersamaan sebagai bagian dari ekosistem yang sangat koheren. Ini adalah eksperimen yang cukup inovatif dan mencerminkan hasil PISA yang positif," ujarnya.

Terkait kurikulum, Andreas sepakat bahwa mengajarkan lebih sedikit hal secara lebih mendalam sangatlah penting. Proses pembelajaran akan lebih fokus pada aktivasi kognitif dan membuat murid terlibat dengan pengalaman belajar yang lebih baik.

“Reformasi pendidikan ini seharusnya berlangsung paling tidak satu dekade, karena menurut saya Anda sudah menempatkan hal tersebut pada jalur yang benar,” pungkasnya.

Tuesday, 2 May 2023

Memperkuat Profil Pelajar Pancasila Melalui Gelar Budaya Gumregah pada Hardiknas 2023



Kabar Ngetren/Purbalingga – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga turut memeriahkan Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2023 dengan mengusung tema "Bergerak Bersama Semarakkan Merdeka Belajar". Acara tersebut dihadiri oleh 600 insan pendidikan dari Kecamatan Kertanegara yang tampil dengan mempersembahkan Gelar Budaya "Gumregah", yang merupakan perpaduan seni suara, seni tari, dan seni musik secara kolosal.


Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga, Tri Gunawan Setyadi, menyampaikan bahwa program Merdeka Belajar harus diterapkan dengan baik, sehingga tenaga pendidik dan kependidikan dapat mengeksplorasi segala kemampuan yang dimilikinya dan belajar tidak lagi terkesan normatif. Ia juga menambahkan bahwa belajar haruslah menyenangkan dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan nyata sesuai dengan filsafat Ki Hadjar Dewantara.


Gelar Budaya "Gumregah" yang ditampilkan dalam acara tersebut merupakan salah satu kegiatan yang dijiwai oleh spirit kurikulum merdeka dan dikenal sebagai Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Kegiatan tersebut dirancang untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.


Acara Hardiknas ini diselenggarakan di Alun-alun Purbalingga dan dihadiri oleh berbagai pihak seperti Wakil Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkominda), Sekretaris Daerah (Sekda), Pimpinan Perguruan Tinggi, seluruh kepala sekolah jenjang pendidikan, pengawas dan pendidik, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Sekolah Menengah Pertama (SMP), K3 Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) Sekolah Dasar (SD), Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI), Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini (Himpaudi), serta siswa-siswi se-Kabupaten Purbalingga. Semoga semangat Merdeka Belajar dapat tertanam dengan baik pada anak-anak kita untuk mengeksplorasi kemampuan dan ide-ide kreatif mereka. (eFHa)

Trending