BANDAR LAMPUNG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Provinsi Lampung resmi menjalin kerja sama strategis lintas sektor dengan nilai transaksi tahunan mencapai Rp 832,3 miliar. Kesepakatan yang diteken pada Selasa (6/1/2026) ini diproyeksikan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah di Pulau Jawa dan Sumatra.
Namun, di balik besarnya potensi ekonomi tersebut, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Wartawan Duta Pena Indonesia (DPP PWDPI), M. Nurullah RS, menegaskan pentingnya aspek transparansi dan akuntabilitas dalam implementasi kerja sama bernilai jumbo ini.
“Kolaborasi antarprovinsi ini punya dampak besar bagi pembangunan daerah. Tetapi, nilai transaksi yang mencapai ratusan miliar rupiah menuntut keterbukaan yang menyeluruh agar publik benar-benar memahami arah dan manfaatnya,” kata M. Nurullah RS, Rabu (7/1/2026).
Transparansi Jadi Kunci Kepercayaan Publik
Menurut M. Nurullah, masyarakat berhak memperoleh informasi yang jelas terkait alokasi anggaran, manfaat ekonomi, hingga mekanisme pengawasan dari kerja sama tersebut. Tanpa transparansi yang kuat, proyek besar berisiko menimbulkan tanda tanya sekaligus menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah.
“Ketika informasi tidak dibuka secara gamblang, ruang spekulasi akan muncul. Padahal, kepercayaan publik adalah fondasi utama keberhasilan kebijakan ekonomi daerah,” ujarnya.
Peran BUMD Jadi Sorotan
Kerja sama ini juga melibatkan sejumlah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), di antaranya PT Jateng Petro Energi, PT Lampung Jasa Utama, PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah, serta PT Wahana Raharja. Keterlibatan entitas usaha milik daerah tersebut dinilai perlu diawasi secara ketat.
“BUMD adalah representasi kepemilikan rakyat. Karena itu, setiap bentuk kerja sama harus berorientasi pada kepentingan publik, bukan kelompok tertentu. Rekam jejak tata kelola dan akuntabilitas BUMD wajib menjadi prioritas,” tegasnya.
Energi dan Perdagangan Jadi Sektor Kunci
Sektor energi menjadi salah satu fokus utama dalam kerja sama ini, terutama pemanfaatan gas bumi dan pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Ketum PWDPI mengingatkan agar orientasi keuntungan ekonomi tetap sejalan dengan perlindungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Selain energi, kerja sama perdagangan multi-komoditas juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi riil, memperluas rantai pasok antarwilayah, serta membuka lapangan kerja bagi tenaga lokal di kedua provinsi.
Dorong Tim Pemantau Independen
Untuk memastikan kerja sama berjalan sesuai prinsip tata kelola yang baik, PWDPI mendorong pembentukan tim pemantau independen. Tim ini diharapkan melibatkan unsur masyarakat sipil, termasuk perwakilan perempuan, guna menjamin pengawasan yang objektif dan inklusif.
“Publikasi laporan perkembangan proyek secara berkala sangat penting agar seluruh proses dapat dipantau bersama, bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga masyarakat,” tambah M. Nurullah.
Ia menutup dengan penegasan bahwa keberhasilan kerja sama ini sangat ditentukan oleh komitmen kedua pemerintah daerah dalam menjaga keterbukaan.
“Dengan transparansi dan akuntabilitas yang kuat, kerja sama ini berpotensi menjadi terobosan ekonomi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Jawa Tengah dan Lampung,” pungkasnya.
Penulis: Tim Media Group PWDPI
Editor: Maz Friend







