Showing posts with label HNW. Show all posts
Showing posts with label HNW. Show all posts

Tuesday, 16 January 2024

Bertemu Pimpinan Pesantren Al Ikhsan, HNW: Pentingnya Edukasi Ethika Berpolitik Untuk Sukseskan Pemilu


Jakarta - Bertempat di Ruang Kerja Lt.9, Gedung Nusantara III, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta, 15 Januari 2024, Wakil Ketua MPR Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid MA (HNW) menerima pimpinan pengurus Yayasan Al Ikhsan yang mengelola Pesantren alIhsan.
 
Delegasi lembaga pendidikan pesantren yang beralamat di Kebagusan, Jakarta, yang hadir dalam silaturahmi itu adalah Dr. KH. Abdurahman, Ibadurrahman, Saripudin Irwansyah, Zaenal Arifin, Alo Didi, dan Ustad Ichsan.
 
Dalam silatuahmi yang dimulai pukul 14.30 WIB itu banyak hal yang dibahas, seperti masalah keumatan, kebangsaan, serta apa yang terjadi saat ini di Palestina.
 
Di akhir silaturahmi, pihak Al Ikhsan menyampaikan undangan kepada HNW agar menghadiri Haflah Al Quran yang akan digelar pada mimggu pertama bulan Februari.
 
Kepada wartawan, HNW berharap kepada Al Ikhsan agar lembaga pendidikan yang berada di Jakarta Selatan itu ikut menyemangati, mengedukasi, dan mencerahkan warga dalam berpolitik dan menghadapi pemilu sesuai ethika dan akhlaq mulia yang diajarkan di Pesantren, apalagi yg berorientasi alQuran. 
 
Hal demikian ditekankan agar semua pihak termasuk masyarakat dalam menghadapi pemilu tidak terjebak pada sikap pragmatisme, tergoda pada money politik hingga lebih memilih golput.
 
Melaksanakan pemilu yang luber dan jurdil menurut HNW menjadi tugas semua anak bangsa sebab pemilu merupakan amanat yang ada dalam UUD NRI Tahun 1945.
 
 “Al Ikhsan kita dorong ikut menyemangati masyarakat agar jati diri anak bangsa seperti nilai-nilai yang diajarkan di pesantren”, ujar Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.
 
Disebut nilai-nilai yang diajarkan di pesantren adalah menjadi manusia yang mempunyai sikap mulia, utama, berakhlak, bertanggung jawab, mementingkan kemaslahatan umat. 

“Serta memilih pemimpin dan wakil rakyat yang baik”, tegas pria yang juga menjadi Ketua Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor itu.
 
Diakui oleh alumni Universitas Madinah, Arab Saudi, itu di tengah kehidupan perkotaan, arus gaya hidup materialistik dan pragmatisme demikian kuatnya sehingga hadirnya lembaga pendidikan yang berbasis agama Islam seperti Al Ikhsan sangat penting. 

“Untuk mengingatkan semangat idealisme dan mempunyai nilai-nilai yang sesuai jati diri pesantren”, tuturnya.
 
Sebagai salah satu elemen masyarakat, Al Ikhsan tidak harus masuk dalam partai politik. Di dorong mereka lebih fokus melakukan pemberdayaan masyarakat melalui jalur pendidikan. 

Meski tidak perlu berpolitik namun diingatkan agar partai politik jangan sampai mengkooptasi Al Ikhsan dan lembaga pendidikan lainnya.
 
Ditegaskan oleh pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu partai politik harus tetap melaksanakan peran-perannya melalui anggota yang ada di DPR dan DPRD untuk memperjuangkan kemaslahatan rakyat dan lembaga-lembaga pendidikan supaya hak-hak mereka terpenuhi.
 
Bila lembaga pendidikan hak-haknya terpenuhi maka hal demikian akan mendongkrak kualitas peserta didiknya. “Bila lembaga pendidikan berkualitas maka demokrasi yang hadir juga semakin ideal”, ucapnya.

Friday, 29 December 2023

Dialog Kebangsaan Dengan Mahasiswa UIKA Bogor, HNW: Generasi Muda Harus Menjadi Kekuatan Besar Untuk Memajukan Bangsa


Bogor - Ratusan mahasiswa Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Kota Bogor, Jawa Barat, pada Hari Kamis, 28 Desember 2024, memenuhi Auditorium Fakultas Hukum Prof. Abdullah Siddiq SH. 

Keberadaan mereka di aula kampus yang beralamat di Jl. KH. Sholeh Iskandar KM 2 Kota Bogor itu untuk mengikuti ‘Dialog Kebangsaan’ lewat ‘Sosialisasi Empat Pilar MPR’.
 
Dialog kebangsaan yang bertema ‘Empat Pilar Kebangsaan Sebagai Karakter Generasi Muda Dalam Mewujudkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa’ itu sangat istimewa karena dihadiri oleh Wakil Ketua MPR Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid MA (HNW).
 
Dalam acara yang digelar mulai pukul 09.00 WIB itu juga dihadiri anggota DPR dari Dapil Kota Bogor-Cianjur, Ecky Awal Mucharam; 

Rektor UIKA Prof. Dr. H. Emujahidin MSi, Staf Khusus Pimpinan MPR Tb Soenmandjaja, dan Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) dan BEM UIKA. 
 
Kepada wartawan, HNW mengatakan dialog kebangsaan digelar untuk mengingatkan kembali bahwa eksistensi Indonesia dengan kemerdekaan dan reformasinya, ada keterlibatan mahasiswa dan generasi muda. 

“Kita segarkan kembali ingatan kolektif mereka, bahwa Indonesia merdeka bukan hanya karena peran orang tua namun di sana juga ada peran generasi muda”, ujarnya. 

“Dahulu Generasi muda secara aktif melibatkan diri, memikirkan dan memperjuangkan juga mempertahankan kemerdekaan Indonesia”, Politisi PKS itu menambahkan.
 
Keterlibatan generasi muda disebut mulai dari tahun 1920 an. Seperti dengan Sumpah Pemuda di mana dari aktivitas tersebut melahirkan sosok-sosok muda yang memperjuangkan dan mempersiapkan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. 

Sejarah perjalanan bangsa dan keterlibatan kaum muda itu, menurut Ketua Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor, harus dipahami oleh generasi muda dari kalangan milenial, gen Z dll.

Agar mereka mampu terus berkontribusi memajukan, menyelamatkan, dan mengisi kemerdekaan dan berkobtribusi mewujudkan cita2 Reformasi.

Saat ini menurut HNW tantangan generasi muda adalah menghadapi 100 Tahun Indonesia Merdeka yang jatuh pada tahun 2045. 

Di masa itu disebut Indonesia akan menikmati bonus demografi. Agar bonus demografi benar-benar bisa membawa kemaslahatan Bangsa dan Negara, maka perlu dipersiapkan dengan wawasan 4 pilar MPR dan praktik bermegara yang baik dan benar. 

“Jangan sampai bonus demografi diisi oleh generasi muda yang tidak mengerti tentang sejarah Indonesia dengan 4 pilar MPR nya”tegasnya.
 
Menurut pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu generasi muda yang mengisi bonus demografi juga harus paham Empat Pilar MPR. 

Hal demikian ditekankan agar generasi muda yang mengisi bonus demografi tidak salah arah. “Itu bisa dilakukan dengan memahami 4 pilar MPR dan mengamalkannya dalam kehidupan secara konstruktif dan dinamis". 
 
Untuk itulah kegiatan yang digelar di UIKA perlu terus disosialisasikan kepada generasi muda agar mereka menjadi kekuatan besar untuk memajukan bangsa. 

Bila generasi muda saat ini mampu membuat bonus demografi sesuai cita-cita bangsa dan tuntutan reformasi maka mereka mampu mengimplementasikan cita-cita kemerdekaan Indonesia termasuk cita-cita reformasi.
 
Lebih lanjut dikatakan, cita-cita reformasi juga sangat luhur. Di sana ada semangat untuk memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme: 

Menegakkan hukum dan demokrasi, memberi ruang kebebasan berekspresi, dan membatasi masa periode jabatan presiden.
 
Diakui, cita-cita reformasi itu sudah banyak dilupakan oleh generasi muda padahal mereka adalah produk dari reformasi. “Untuk itu penting sekali menyadarkan kembali cita-cita reformasi”, tegasnya.
 
Generasi muda sekarang hidup dalam masa serba mudah dalam berkomunikasi. Akibat yang demikian membuat mereka memiliki problem kebangsaan seperti melupakan sejarah. 

Alumni Universitas Madinah, Arab Saudi, itu menuturkan generasi muda tidak boleh melupakan masa lalu di mana di saat itu ada peran generasi muda.
 
Diingatkan agar mereka memahami jati diri dan melanjutkan peran sejarah generasi muda pada masa lalu. 

“Tokoh-tokoh muda masa lalu menjadi inspirasi generasi muda saat ini” Paparnya.

 “Generasi muda saat ini harus bisa menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya sehingga bonus demografi benar2 berarti positif untuk menyambut Indonesia Emas 2045”pungkasnya.

Trending