Showing posts with label Perubahan iklim. Show all posts
Showing posts with label Perubahan iklim. Show all posts

Sunday, 4 June 2023

Persiapan Menghadapi Fenomena El Nino

Persiapan Menghadapi Fenomena El Nino

Kabar Ngetren/Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa fenomena iklim El Nino akan terjadi mulai bulan ini dan mencapai puncaknya di akhir tahun. 

El Nino adalah peristiwa perubahan angin dan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang dapat mengakibatkan penurunan curah hujan secara global.

Berdasarkan Indeks Nino 3.4, naiknya suhu menunjukkan kehadiran El Nino, sementara penurunannya menandakan kemunculan fenomena La Nina yang dapat meningkatkan curah hujan. 

Pelaksana tugas Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Urip Haryoko, mengungkapkan bahwa berdasarkan pengamatan mereka, fase La Nina berakhir pada Februari 2023 dan periode Maret-April 2023 menunjukkan fase Netral dalam ENSO, yang menandakan ketiadaan gangguan iklim dari Samudra Pasifik.

Urip juga mengatakan bahwa ada kemungkinan besar peralihan ke El Nino bulan ini. BMKG memprediksi puncak El Nino, yaitu puncak anomali suhu di Samudra Pasifik, akan terjadi pada November-Desember. 

El Nino secara umum akan menyebabkan iklim kering di Indonesia, terutama pada periode Juni hingga Oktober. Oleh karena itu, dampak El Nino akan dirasakan lebih signifikan selama periode tersebut karena bertepatan dengan musim kemarau di Indonesia.

Dampak dari fenomena El Nino termasuk penurunan curah hujan dibandingkan dengan rata-ratanya, terutama pada periode Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON). 

BMKG mengingatkan masyarakat untuk mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat, mengingat situasi El Nino akan berdampak pada peningkatan suhu udara. 

Selain itu, BMKG juga telah menghimbau untuk melakukan penyimpanan air di daerah yang berpotensi mengalami kekeringan yang panjang. (Maulana Yusuf)

Friday, 26 May 2023

Salju Abadi di Puncak Jaya, Papua, Terancam Lenyap pada 2026



Kabar Ngetren/Papua - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa salju abadi di dekat Puncak Jaya, Papua, mengalami penyusutan yang signifikan. 

Luas tutupan es salju yang berada di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut ini telah menyusut hingga 98%. 

Dari luas semula 19,3 km persegi pada tahun 1850, kini hanya tersisa 0,34 km persegi pada tahun 2020.

Data dari satelit Sentinel-2A juga menunjukkan bahwa penyusutan luas tutupan es di Papua terus berlanjut. 

Pada bulan Juli 2021, terjadi penyusutan sebesar 0,27 km persegi, dan pada bulan April 2022, terjadi penyusutan sebesar 0,23 km persegi.

Selain luasnya yang berkurang, ketebalan es juga semakin menipis. Pemantauan yang dilakukan oleh tim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan PT Freeport Indonesia (PTFI) sejak 2010 hingga 2022 menunjukkan bahwa es mengalami penipisan secara signifikan.

Hasil penelitian BMKG bekerja sama dengan The Ohio State University, Amerika Serikat, mengindikasikan bahwa selama periode 2010-2015, es mengalami penipisan sekitar 5 meter dengan laju penipisan sebesar 1,05 meter per tahun.

Pada November 2015-2016, penipisan es mencapai 5 meter yang sangat signifikan, yang kemungkinan disebabkan oleh efek El Niño 2015-2016 yang sangat kuat.

Pada awal tahun 2021, melalui foto udara, terlihat bahwa ketebalan es telah berkurang sebanyak 12,5 meter sejak November 2016, atau setara dengan laju penipisan sekitar 2,5 meter per tahun.

"Dengan menggunakan pemodelan CORDEX-SEA dan data observasi, kami memprediksi bahwa tutupan es di Puncak Jaya diperkirakan akan hilang pada tahun 2026," ungkap Donaldi S. Permana dalam tulisannya di The Conversation.

Namun, laju penipisan gletser bisa menjadi lebih parah. Bahkan, gletser dapat benar-benar lenyap secepat tahun 2024. 

Risiko ini semakin meningkat karena El Niño, yang menyebabkan pemanasan iklim global, berpotensi terjadi pada tahun ini.

Hal ini tentu menjadi keprihatinan serius bagi masyarakat Indonesia. 

Terlebih lagi, kita telah merasakan efek gas rumah kaca dalam beberapa pekan terakhir di seluruh wilayah Indonesia. 

Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang berkontribusi pada emisi karbon dan merusak lapisan ozon bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab kita sebagai masyarakat. 

Selain itu, menanam lebih banyak pohon di sekitar rumah dapat membantu mengurangi efek dari penipisan lapisan ozon di Bumi.

Kita semua perlu berperan serta dalam mengatasi masalah pemanasan global ini, agar kita dapat menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah dampak yang lebih buruk di masa depan. (Maulana Yusuf)

Trending