Wednesday, 26 November 2025

“Aksarasa” Bikin Haru! Kisah Muhammad Basirin Raih Juara 2 Lomba Video Literasi Jateng 2025


“Aksarasa” Bikin Haru! Kisah Muhammad Basirin Raih Juara 2 Lomba Video Literasi Jateng 2025
Foto: ngunengkita.com

Puhpelem, Wonogiri - Muhammad Basirin, pemuda asal Desa Nguneng, Puhpelem, Wonogiri, sukses mencuri perhatian usai meraih Juara 2 Lomba Video Literasi Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2025. Karyanya berjudul “Aksarasa” bukan hanya unik, tapi juga mengangkat nilai budaya yang makin jarang ditemui anak muda zaman sekarang. Dalam obrolan santai via WhatsApp, Basirin cerita banyak hal tentang proses kreatifnya—yang ternyata penuh kejutan, tantangan, sampai momen kocak.


Awal Mula “Aksarasa”: Dari Soal Pilihan Ganda Sampai Inspirasi Budaya


Basirin mengungkap bahwa ide awal video “Aksarasa” datang dari hal sederhana: sebuah soal pilihan ganda saat ia sedang menjadi Wali Kelas Bantuan (WB) di SD.


Awal kepikiran bikin video Aksarasa itu berawal dari soal pilihan ganda. Ada tulisan penggalan Aksara Jawa yang bikin aku mikir, ‘Ini apa sih?’” ungkapnya.


Ia kemudian menjelaskan bahwa di soal tersebut terdapat kata Dungo, yang menurut cerita turun-temurun adalah bacaan atau doa tertentu. “Dari situ aku sadar, Aksara Jawa itu ternyata bukan cuma dibaca, tapi dirasakan. Makanya aku sambung jadi Aksarasa, biar beda dan lebih dalam maknanya,” tuturnya.


Proses Produksi: Syuting Saat Puasa, Talent Anak SD


Basirin menceritakan bahwa produksi “Aksarasa” berlangsung super padat dan penuh tantangan.


Paling ribet itu karena talent-nya anak-anak SD, Mas. Jadi harus ngulang tag berkali-kali. Syutingnya pas puasa pula, jadi anak-anak cepat capek.


“Aksarasa” Bikin Haru! Kisah Muhammad Basirin Raih Juara 2 Lomba Video Literasi Jateng 2025
Foto: Tangkapan layar video Aksarasa karya Muhammad Basirin 


Ia menyiapkan skrip malam hari, syuting pagi mulai jam 7 sampai 11, kemudian sorenya langsung editing, dan malam dikirim.


Waktu mepet banget. Tapi alhamdulillah kelar juga dalam sehari.” jelasnya.


Pesan Utama: Keprihatinan Akan Lunturnya Aksara Jawa


Menurut Basirin, inti dari “Aksarasa” adalah kegelisahannya melihat Aksara Jawa makin jarang dipahami generasi muda.


Sekarang banyak anak muda gak ngerti Aksara Jawa. Bahkan aku sendiri aja bisa baca tapi artinya sering meleset.” ungkapnya.


Ia menambahkan bahwa literasi sudah ditekankan sejak zaman dulu, tapi kini makin pudar, terutama di SD yang kurikulumnya lebih fokus mengembangkan kognitif dan aktivitas anak.


Padahal Aksara Jawa itu bagian dari nilai tradisi dan budaya kita. Seyogyanya tetap dilestarikan.” tegasnya.


Momen Pengumuman: Dari Nggak Nyangka di Kabupaten sampai Kaget Juara 2 Provinsi


Basirin sendiri mengaku sama sekali tidak menyangka hasil akhirnya.


Wah, gak nyangka, Mas. Di Wonogiri aja aku cuma juara 3. Jadi pas diumumkan juara 2 tingkat provinsi, itu kaget banget. Peserta lain bagus-bagus, lho.” ujarnya.


Ia bahkan menyebut salah satu peserta yang ia kagumi.


Contohnya Mas Nur Falah, pejuara 5. Videonya kreatif banget. Makanya aku mikir, peluangku tipis.” tutur Basirin.


Menurutnya, kriteria utama juri adalah seberapa menarik video sampai membuat penonton tidak menekan tombol skip.


Videoku menurutku bikin orang penasaran. Alurnya naik turun, bukan datar kayak teori gunung. Ending-nya pakai puisi sebagai penegasan.” jelasnya.


Rencana ke Depan: Projek Edukasi hingga Permainan Tradisional


Setelah kemenangan ini, Basirin tidak berniat berhenti berkarya.


Insya Allah ke depan aku mau buat proyek-proyek edukasi untuk anak-anak. Terutama tentang permainan tradisional dan nilai budaya seperti sopan santun yang sekarang mulai luntur.” ungkapnya.


Ia bahkan sudah menargetkan ikut event video lagi pada 2026.


Video kemarin masih banyak kurangnya. Pewarnaan, angle drone, masih banyak miss. Itu jadi bahan evaluasiku buat ke depan biar lebih baik.” tambahnya.


Karya yang Lahir dari Kepekaan Budaya


Karya “Aksarasa” bukan hanya video literasi, tapi juga bentuk kepedulian seorang pemuda desa terhadap budaya Jawa yang makin terlupakan. Dengan segala keterbatasan, Basirin berhasil membawa nama Wonogiri dan sekolah tempatnya bekerja hingga tingkat provinsi.


Aku sendiri gak nyangka bisa sampai di titik ini. Semoga bisa terus berkarya lebih baik lagi.” tutupnya penuh syukur. (Maz Friend).

Trending